Resume buku Isti’ab (Fathi Yakan)

Resume buku Isti’ab (Fathi Yakan)

ISTI’AB
A. Makna
§ Isti’ab(daya tampung) adalah kemampuan da’I untuk menarik objek dakwah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.
§ Da’I yang sukses adalah da’I yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya sekalipun kecenderungan, karakter dan tingkatan mereka berbeda.
§ Pada dasarnya kemampuan untuk melakuakn isti’ab ini merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. tanpa isti’ab, seseorang tidak akan pernah menjadi da’I dan dengan demikian tidak aka nada dakwah.
B. Tingkat Kemampuan dalam Isti’ab
Meski setiap orang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam isti’ab, seorang da’I harus memenuhi kemampuan minimal dalam isti’ab. Krena, tanpa kemampuan tersebut, seorang da’I tidak hanya sekedar tidak produktif dalam dakwah, tetapi juga menjadi penghalang dan mudharat bagi pergerakan Islam dan Islam.
C. Isti’ab dan keberhasilan dakwah.
Isti’ab memiliki hubungan yang sangat mendasar terhadap keberhasilan dakwah. Jika dakwah memiliki banyak da’I yang mampu merekrut masyarakat pada Islam dan pergerakan yang ada, maka dakwah akan berhasil. Sebaliknya, tanpa adanya da’I yang memiliki kemampuandalam isti’ab, dakwah akan mandul dan pergerakannya sangat sempit.
D. Isti’ab Eksternal dan Internal
Isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di luar dakwah, di luar pergerakkan, dan di luar organisasi.
Isti’ab internal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di luar organisasi (jama’ah dan pergerakkan)
Dua sisi ini saling melengkapi. Keberhasilan seoraang da’I sangat terkait dengan kemampuannya untuk menguasai keduanya, karena tidak ada gunanya penguasaan terhadap masyarakat di luar tanzhim (Jama’ah) tanpa dibarengi dengan penguasaan terhadap masyarakat yang ada di dalam tanzhim.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isti’ab eksternal adalah usaha pencarian, pengarahan, dan pengadaan, sedang isti’ab internal adalah usaha pembentukkan dan produksi. Kedua bidang ini memiliki berbagai tuntutan dan syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan tugas dan sasaran masing-masing dari keduanya.
· Tuntutan dalam isti’ab ekternal:
1. Kepahaman tentang agama.
Untuk menjadi seorang da’I, seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam agar dapat mengarahkan dan member petunjuk. Karena urgensi pemahaman ini, banyak nash Al-Quran dan Hadits yang menekankan hal ini, di antaranya:
“.. Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar (39) : 9)

“Wahai manusia, sesungguhnya ilmu hanya akan didapat dengan belajar. Sedang pemahaman hanya akan didapat melalui pendalaman (tafaquh) dan barang siapa yang dikehendaki Allah baik maka ia akan diberi kepahaman dalam agama, sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamabNya adalah ulama.”(HR. Bukhari)

Namun, dalam perjalanan isti’ab yang dilakukan, perlu diingat bahwa tujuan kita adalah membuatnya tertarik dengan Islam, bukan salah satu pergerakkan Islam atau tujuan lain.
2. Keteladanan yang Baik
Seorang da’I harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, agar ia memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga mereka bisa direkrut. Karena pengaruh ucapan tidak seefektif pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan.
Seorang da’ai yang tidak dapat memberikan teladan yang baik dan tidak mengamalkan apa yang ia katakana, justru akan menjadi fitnah bagi masyarakat yang lain. Karena itu, keistiqomahan seorang da’I adalah rhasia keberhasilan dalam dakwah.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakkan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakkan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.As-Shaff(61): 2-3).
“Segolongan orang-orang yang masuk syurga pergi kepada penghuni neraka. Penghuni neraka lalu bertanya: Bagaimana kalian bisa masuk syurga? Penghuni syurga menjawab: “Tidaklah kami asuk syurga, kecuali dari apa yang pernah kami pelajari dari kalian. “ Mendengar jawaban itu penghuni neraka berkata : “Kami memang mengatakannya, namun tidak melaksanakannya”.” (HR. Thabrani)
3. Kesabaran
Untuk merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, mmemiliki tabiat yang beragam, memiliki kekurangan yang berbeda-beda, dan memiliki kepentingan yang berlainan. Semua itu membutuhkan seseorang yang mampu menampungnya.
Di lain pihak, hidayah tidak bisa masuk kedalam jiwa seseorang sekaligus. Ia memerlukan usaha yang terus menerus. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran.
Da’I yang benar adalah da’I yang hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri, berusaha untuk membahagiakan orang lain meskipun harus mengorbankan kepentingan pribadi.
4. Santun dan Lemah Lembut
Dalam usaha menarik masyarakat, seorang da’I harus bersikap lemah lembut terhadap mereka. Karena masyarakat membenci kekerasan dan menjauhi pelakunya.
Seorang da’I harus menganggap dirinya murabbi bagi setiap manusia. Karena itu, agar pendidikannya berhasil, ia tidak boleh memperlakukan masyarakat seperti musuh.
“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal” (HR. Bukhari-Muslim)
5. Memudahkan, tidak mempersulit.
Salah satu sikap yang membantu para da’I agar dakwahnya diterima adalah memudahkan, dan tidak mempersulit dalam menelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari” (HR. Bukhari-Muslim)
6. Tawadhu’ dan Merendahkan Sayap
Salah satu sikap paling menonjol, yang membuat para da’I disukai oleh keluarga dan masyarakatnya, juga menjadikan ia memiliki pengaruh yang sangat kuat, adalah sikap tawadhu’ dan merendahkan sayap.
“tidak akan masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)
7. Muka Berseri-seri dan Perkataan yang Baik
Muka berserk- seri dalah lambing bagi seorang da’I dan cermin bagi jiwa. Seorang da’I hendaklah melatih diri agar wajahnya senatiasa tampak berseri-seri dan murah senyum dalam kondisi apapun. Sedangkan perkataan yang baik adalah sarana untuk berhubungan dengan orang lain, dan sarana untuk mengungkapkan berbagai nilai dan pemikiran.
“…. Serta ucapakanlah kata-kata yang baik kepada maunusia.” (Al-Baqarah (2) : 83)
8. Dermawan dan Berinfak kepada Orang Lain
Dalam jalan dakwah ini segala sesuatu harus dimurahkan. Hal demikian karena nilai utama adalahbagi manusia yang untuknya Allah menundukkan segala apa yang ada di langit dan di bumi. Salah satunya adalah harta yang diberikan Allah kepada kita.
· Islam mewajibkan memuliakan tamu. Bisakah kita memuliakan tamu tanpa mengeluarkan dana dan jiwa yang dermawan?
· Member hadiah kepada orang lain termasuk akhlaq Islam dan dianjurkan oleh Nabi SAW
· Semua keutamaan yang diperintahkan Islam, menuntut kedermawanan. Berbagai perbuatan mulia yang diperintahkan Allah, seperti berinfaq kepada fakir miskin, bertentangan dengan kebakhilan.
9. Melayani Orang Lain dan Membantu Keperluan Mereka
Seorang da’I wajib menerjemahkan pemikiran dan konsepnya dalam bentuk tindakan konkret. Salah satunya adalah dengan turut merasakan problemaika umat, dan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikannya.

· Isti’ab Internal
Adalah kemampuan untuk menampung objek dakwah yang telah berada di tengah-tengah shaff dakwah baik oleh para pemimpin maupun anggotanya.
Isti’ab internal berusaha untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah dan pergerakan.isti’ab internal dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
I. Isti’ab ‘aqidi dan tarbawi
Dalam tahap ini dilakukan ormulasi terhadap kader dengan membersihkan mereka dari polutan masa lalu, dan mencuci otak mereka dari karat-karat yang menempel padanya berupa berbagai hal yang tidak Islami.
Selain itu, dilakukan pelurusan aqidah, perilaku dan akhlaq, serta keinginan dan kecenderungan mereka. Dtitentukan pula arah sasaran dan tujuan mereka.
Sedangkan isti’ab tarbawi, harus bisa memenuhi semua bidang tarbiyah. Tidak boleh hanya pemikiran semata, atau spiritual semata. Tetapi harus bisa memenuhi semua fitrah kebutuhan manusia.
Isti’ab tarbawi harus meperhatikan berbagai perkembangan kehidupan dan tahapan-tahapan alami dan khusus yang dilalui oleh para individu.
Isti’ab tarbawi harus bisa memenuhi seluruh bidang tarbiyah. Tidak boleh hanya pemikiran semaa,. Tapi harus bisa memenuhi semua kebutuhan fitrah manusia.
1) Sunnah Rasul dalam Pembentukkan Pribadi Muslim
Rasulullah menggunakan metode yang unik sesuai dengan kesempurnaan manhaj Islam dan fitrah yang ditetapkan oleh Allah. Rasulullah memandang manusia apa adanya, dan menghadapi manusia layaknya manusia, dan memperhatikan segala kecenderungan dan kebutuhan manusia. Rasulullah tidak menghadapai manusia seperti menghadapai malaikat, juga tidak menghadapi manusia seperti binatang.
2) Beberapa Kaidah Asasi dalam Sunnah
§ Memenangkan sisi positif atas sisi negativ
“Orang yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar terhadap gangguannya lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguannya” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
§ Memennangkan sikap proporsional atas sikap berlebih-lebihan
“Ingatlah, akan hancur orang-orang yang berlebih-lebihan, akan hancur orang-orang yang berlebih-lebihan” (HR.Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)
§ Sedikit tapi kontinyu lebih baik daripada banyak tapi terputus
Kontinuitas akan membua seseorang dapat melaksanakan tanpa merasa keberatan.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinyu.” (HR. Bukhari dan Malik)
§ Sunnah Rasul dan Mendahulukan Prioritas dalam Pembentukkan
Salah satu sunnah Rasul dalam pembentukkan adalah melakukan sesuatu sesuai prioritasnya, serta mendahulukan yang lebih penting daripada yang penting. Proses pembentukkan yang tidak melalui tangga prioritas, hanya akan menghasilkan produk yang rapuh karena tidak memiliki dasar yang kokoh. Inilah titik perbedaan mendasar antara akhlaq Islam yang dilandasi oleh aqidah tauhid, dan akhlaq menurut persepsi filsafat materialis yang hanya dilandasi oleh kepentingan sesaat.
Dalam melakukan pembentukkan, Rasulullah terlebih dahulu memfokuskan pembangunan aqidah.
§ Pembentukkan Melalui Keteladanan
Rasulullah adalah teladan utama bagi umat Islam, di setiap zaman, dan tempat. Hal ini karena Rasulullah adalah refleksi utuh dari Al-Quran.
“Keimanan bukanlah dengan angan-angan dan harapan, akan tetapi keimanan adalah sesuatu yang yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dalam bentuk amalan.” (HR. Dailami)
§ Pembentukkan yang Menyeluruh dan Tidak Parsial
Rasulullah melalui hadits-haditsnya tidak hanya memfokuskan satu sisi dalam diri seseorang. Akan tetapi memperhatikan semua sisi.
§ Keshalihan Lingkungan dan Pengaruhnya dalam Pembentukkan
i. Rasulullah memandang bahwa lingkungan keluarga merupakan titik tolak pertama yang menentukan proses pembentukkan.
ii. Pemilihan teman juga dianggap faktor yang berpengaruh dalam pembentukkan.
iii. Rasulullah juga sering menganjurkan untuk membersihkan masyarakat dari berbagai unsure yang tidak baik, demi untuk menutup pintu-pintu kerusakkan dan membantu individu dalam mewujudkan istiqomah dan menempuh jalan orang-orang yang shalih.
§ Dampak Pahala dan Hukuman dalam Pembentukkan
Penetapan prinsip pahala dan hukuman diterapkan oleh Rasulullah sebagai realisasi konkret dari prinsip pahala yang banyak disebutkan dalam Al-Quran.
· Isti’ab Haraki
Adalah kemampuan sebuah pergerakkan dalam menampung para anggotanya, para pendukungnya, dan para simpatisannya. Sebagaimana yang dimaksudkannya adalah juga kemampuan gerakkan dan para anggotanya dalam menampung berbagai persoalan, prinsip, dan kaidah-kaidah pergerakkan.
Untuk dapat menampung para anggotanya, gerakkan harus memenuhi beberapa syarat berikut:
1. Proses tarbiyah yang matang. Karena keikutsertaan seseorang dalam sebuah pergerakkan harus diawali dengan tarbiyah. Jika tidak, maka kegagalan yang akan didapat.
2. tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakkan untuk bisa menampung anggotanya. Antara lain; manajerial yang handal, perencanaan yang matang, konsep yang jelas dalam pendidikan, pemikiran, politik, dan lain sebagainya.
c. mengetahui semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dan hal-hal lainnya.
d. mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja, atau orang-orang berprestasi saja.
e. penugasan anggota jama’ah secara bersama-sama, bukan secara individu saja.

Ada beberapa masalah penting yang harus dikuasai oleh para da’I terkait dengan pergerakkan, yaitu:
1. pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan sarana yang digunakan
2. memahami tanzhim dan tabiatnya dengan benar.
3. pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut konsekuensinya.
4. pemahaman yang baik tentang berbagai aspek, tabi’at, dan kebutuhan amal.
5. menjauhi fenomena istiknaf.

(Yakan, Fathi.2005. Isti’ab. Jakarta : Robbani Press)