GENTA : SEPERTINYA KAMI SUDAH BERSEDEKAH HAMPIR 20RIBU PAK!

GENTA : SEPERTINYA KAMI SUDAH BERSEDEKAH HAMPIR 20RIBU PAK!
6 hari seminggu, rerata 22 jam aktif per hari, berbagai macam hal terjadi. 30 September 2015, saya diumumkan masuk PK-45 (Persiapan Keberangkatan Beasiswa LPDP angkatan 45), saya sedikit mengeluh. Kok masuk kuliah masih lama tapi sudah disuruh PK saja, kan bisa nanti-nanti kan? Ternyata, setelah selesai saya malah terus bersyukur bisa masuk ke dalam lingkaran orang-orang hebat ini.
Terlalu banyak yang dapat diceritakan selama kegiatan Pra-PK, mau disuruh berapa kata pun saya pasti capek untuk menjelaskan secara detail. Yang jelas, semua tugasnya memiliki makna yang sama, “I must push my limit.”

Semua tugas yang diberikan saat sebelum Persiapan Keberangkatan benar-benar terasa hampir tidak mungkin ketika dihantam dengan deadline. Namun perlahan tapi pasti saya merasa kalau memang otak saja lah yang memanjakan raga untuk tidak berbuat lebih.

Sampai pada akhirnya PK pun tiba, berbekal tas besar yang buat pegal tangan kanan dan ransel saya dan beberapa anggota PK-45 lain pergi dengan kereta eksekutif (which is my first experience naik kereta mahal yang cuma beda di sudut dan busa kursi dengan kereta ekonomi) kami menuju Yogyakarta.

Singkat cerita briefing sana kenalan sini, tidur sana terlambat sini. Saya memulai hari pertama PK dengan tidak baik karena hanya saya dengan Willy, awardee lain yang berbaik hati menampung saya, yang datang sangat mepet dengan jadwal pembukaan PK. Kenapa sih harus seketat ini. Gerutu dalam hati.

Akan tetapi, setelah semua dimulai saya baru menemukan esensi subjektif saya mengenai persiapan keberangkatan ini. It really brings you for bigger purposes. Mungkin banyak yang melihat sebagai keanehan ketika persiapan beasiswa malah menugaskan beberapa awardee untuk stand up comedy, atau mencari teman sebanyak-banyak di linkedin.

“Hei Lam, para tim sudah berpengalaman menangani 44 PK sebelumnya, dan mereka orang-orang yang sangat terdidik. Tak mungkin ini dibuat tanpa maksud.” Benar saja, semua tugas ini mempunyai manfaat implisit yang mungkin beberapa orang “hebat” malah tidak dapat melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik.

For the first time, saya tampil sebagai comic di stand up comedy. Selanjutnya pertama kali setelah sekian lama sebagai MC. Lalu pertama kalinya lagi yang terparah sebagai dirijen dan penari yang disorientasi arah tubuh dan gerakannya sudah masuk level kronis. Benar-benar pengalaman yang hebat menurut saya, para akademisi ini disuruh menyentuh dunia lain yang mungkin mereka tak akan lakukan lagi setelah PK. Saya gagal atau berhasil semuanya diselesaikan dengan menertawakan dan menghargai diri sendiri.

Saya merasa ikatan saya dengan banyak calon pemimpin bangsa ini menguat, dan memang itu tujuan PK. Saya merasa harus menjadi role model untuk orang lain khususnya sebagai duta LPDP, dan memang itu tujuan PK. Lalu saya mendapatkan banyak sekali inspirasi, mulai dari narasumber sampai awardee lain (jujur, saya merasa banyak awardee yang tak kalah inspiratif dengan narasumber), dan itu memang tujuan PK. Jadi terasa lucu saja kalau saya waktu itu masih sempat berpikir Persiapan Keberangkatan hanyalah sesuatu yang harus segera saya lewati sebagai proses formalitas. PK jauh lebih dari itu.

Pak Kamil, sebagai person in charge program ini, dengan baik merangkum hal ini di suatu sesi. Saya tak ingat speech secara lengkapnya, namun kurang lebih ia berkata bahwa PK ini dibuat seperti membujuk orang untuk sedekah secara maksimal.

“Kalau kamu punya uang 20ribu, terus kamu tidak sedekah, salah tidak?” Pak Kamil bertanya. Dan kami secara kompak berkata tidak.

“Kalau cuma sedekah 3 ribu, salah tidak?” “Tidaaaak”

Seperti itu, Pak Kamil terus menaikkan angka uang sedekahnya sampai pada akhirnya ia berkata kurang lebih seperti ini. Bahwa sebenarnya beliau ingin kami menyedekahkan semua uang 20 ribu itu, mengeluarkan semua potensi kami, menghilangkan mindset kami tentang limit dalam diri, semuanya demi kami juga toh saat studi kami kelak.

Disaat itu saya melihat kegiatan PK ini dari perspektif yang berbeda, dan mungkin itu terjadi kepada awardee yang lain juga. Bila melihat kegigihan mas Irsan,teman awardee saya yang dalam hampir tiap penyambutan narasumber ia harus berpanas-panasan dalam kostum maskot kami, Genta, saya rasa ia pantas berkata bahwa.

“Sepertinya kami sudah bersedekah hampir 20 ribu Pak”

P.S : Tentu saja, dalam kegiatan selama Pra-PK dan PK, PK-45 banyak sekali kekurangan. Namun, terlepas dari itu semua, saya benar-benar bersyukur bisa mengenal tim PK dan tentunya kalian hey teman Gelora Nusantara.

Sumber dr awardee PK-45: https://huudalam.wordpress.com/2015/11/07/genta-sepertinya-kami-sudah-bersedekah-hampir-20ribu-pak/