Uncategorized

HARTA HARAM MUAMALAT KONTEMPORER

Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang suatu masa, orang-orang tidak perduli dari mana harta dihasilkannya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram”. (HR.Bukhari)

Bagi Anda yang peduli mencari harta dgn cara-cara yang haq, telah hadir buku:

“HARTA HARAM MUAMALAT KONTEMPORER”

Penulis: DR.ERWANDI TARMIZI
(Doktor Ushul Fiqih Universitas Al-Imam Muhammad Bin SaudRiyadh, King Saudi Arabia)
Buku ini sangat dibutuhkan umat dan bernilai ilmiah tinggi. Menjawab persoalan-persoalan keseharian dlm muamalat. Menguraikan transaksi-transaksi di berbagai lembaga keuangan; bank, asuransi, pegadaian serta pasar modal dalam bentuk riba dan gharar diantaranya: KPR, leasing, gadai emas, kartu kredit, saham, obligasi, cek, L/C, buy on margin, short sale, murabahah, mudharabah dan dana talangan haji. Juga, muamalat haram di institusi; sogok dan korupsi.
Edisi terbaru membahas BPJS..

Mengungkap praktik marketing di dunia niaga; MLM, jual beli online, promosi, diskon, iklan, serta penjualan produk makanan yang bercampur gelatin, alkohol, formalin dan berbagai produk lainnya.

Berbagai problematika maaliyyah tersebut dipaparkan dengan metoda ilmiah fiqh perbandingan, dilengkapi dengan dalil-dalil Al Quran, sunnah dan fatwa-fatwa lembaga fiqh nasional dan internasional, diakhiri dengan pendapat yang kuat, disertakan dengan SOLUSI ISLAMI UNTUK SEBUAH TRANSAKSI HARAM AGAR MENJADI HALAL.

Umat dihimbau membersihkan hartanya dari hasil usaha haram, dan dijelaskan tata cara mencuci harta haram, sehingga seorang muslim benar-benar bersih saat menghadap Allah, bersih harta, jiwa dan raga.

Harga buku: Rp.130.000

Spesifikasi:
Soft Cover
Ukuran: 24×16 cm
Isi: 579 halaman
Berat: 0.8kg
Penerbit: BMI Publishing

Pemesanan ke Mohammad Kamiluddin (0818-0838-6976) >> WA/SMS

Bisa Juga dijadikan hadiah untuk sahabat dan keluarga terdekat

Resume buku Isti’ab (Fathi Yakan)

Resume buku Isti’ab (Fathi Yakan)

ISTI’AB
A. Makna
§ Isti’ab(daya tampung) adalah kemampuan da’I untuk menarik objek dakwah (mad’u) dan merekrut mereka dengan segala perbedaan intelektual, kejiwaan, status sosial dan lain sebagainya.
§ Da’I yang sukses adalah da’I yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya sekalipun kecenderungan, karakter dan tingkatan mereka berbeda.
§ Pada dasarnya kemampuan untuk melakuakn isti’ab ini merupakan keahlian yang paling penting dalam kepribadian seorang da’i. tanpa isti’ab, seseorang tidak akan pernah menjadi da’I dan dengan demikian tidak aka nada dakwah.
B. Tingkat Kemampuan dalam Isti’ab
Meski setiap orang memiliki tingkat kemampuan yang berbeda dalam isti’ab, seorang da’I harus memenuhi kemampuan minimal dalam isti’ab. Krena, tanpa kemampuan tersebut, seorang da’I tidak hanya sekedar tidak produktif dalam dakwah, tetapi juga menjadi penghalang dan mudharat bagi pergerakan Islam dan Islam.
C. Isti’ab dan keberhasilan dakwah.
Isti’ab memiliki hubungan yang sangat mendasar terhadap keberhasilan dakwah. Jika dakwah memiliki banyak da’I yang mampu merekrut masyarakat pada Islam dan pergerakan yang ada, maka dakwah akan berhasil. Sebaliknya, tanpa adanya da’I yang memiliki kemampuandalam isti’ab, dakwah akan mandul dan pergerakannya sangat sempit.
D. Isti’ab Eksternal dan Internal
Isti’ab eksternal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di luar dakwah, di luar pergerakkan, dan di luar organisasi.
Isti’ab internal adalah penguasaan terhadap orang-orang yang berada di luar organisasi (jama’ah dan pergerakkan)
Dua sisi ini saling melengkapi. Keberhasilan seoraang da’I sangat terkait dengan kemampuannya untuk menguasai keduanya, karena tidak ada gunanya penguasaan terhadap masyarakat di luar tanzhim (Jama’ah) tanpa dibarengi dengan penguasaan terhadap masyarakat yang ada di dalam tanzhim.
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isti’ab eksternal adalah usaha pencarian, pengarahan, dan pengadaan, sedang isti’ab internal adalah usaha pembentukkan dan produksi. Kedua bidang ini memiliki berbagai tuntutan dan syarat yang harus dipenuhi sesuai dengan tugas dan sasaran masing-masing dari keduanya.
· Tuntutan dalam isti’ab ekternal:
1. Kepahaman tentang agama.
Untuk menjadi seorang da’I, seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang Islam agar dapat mengarahkan dan member petunjuk. Karena urgensi pemahaman ini, banyak nash Al-Quran dan Hadits yang menekankan hal ini, di antaranya:
“.. Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar (39) : 9)

“Wahai manusia, sesungguhnya ilmu hanya akan didapat dengan belajar. Sedang pemahaman hanya akan didapat melalui pendalaman (tafaquh) dan barang siapa yang dikehendaki Allah baik maka ia akan diberi kepahaman dalam agama, sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamabNya adalah ulama.”(HR. Bukhari)

Namun, dalam perjalanan isti’ab yang dilakukan, perlu diingat bahwa tujuan kita adalah membuatnya tertarik dengan Islam, bukan salah satu pergerakkan Islam atau tujuan lain.
2. Keteladanan yang Baik
Seorang da’I harus menjadi teladan yang baik bagi masyarakat, agar ia memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga mereka bisa direkrut. Karena pengaruh ucapan tidak seefektif pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan.
Seorang da’ai yang tidak dapat memberikan teladan yang baik dan tidak mengamalkan apa yang ia katakana, justru akan menjadi fitnah bagi masyarakat yang lain. Karena itu, keistiqomahan seorang da’I adalah rhasia keberhasilan dalam dakwah.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakkan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakkan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS.As-Shaff(61): 2-3).
“Segolongan orang-orang yang masuk syurga pergi kepada penghuni neraka. Penghuni neraka lalu bertanya: Bagaimana kalian bisa masuk syurga? Penghuni syurga menjawab: “Tidaklah kami asuk syurga, kecuali dari apa yang pernah kami pelajari dari kalian. “ Mendengar jawaban itu penghuni neraka berkata : “Kami memang mengatakannya, namun tidak melaksanakannya”.” (HR. Thabrani)
3. Kesabaran
Untuk merekrut dan mempengaruhi masyarakat dibutuhkan kesabaran. Hal ini dikarenakan manusia memiliki kondisi kejiwaan yang bermacam-macam, mmemiliki tabiat yang beragam, memiliki kekurangan yang berbeda-beda, dan memiliki kepentingan yang berlainan. Semua itu membutuhkan seseorang yang mampu menampungnya.
Di lain pihak, hidayah tidak bisa masuk kedalam jiwa seseorang sekaligus. Ia memerlukan usaha yang terus menerus. Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran.
Da’I yang benar adalah da’I yang hidup untuk orang lain dan bukan untuk dirinya sendiri, berusaha untuk membahagiakan orang lain meskipun harus mengorbankan kepentingan pribadi.
4. Santun dan Lemah Lembut
Dalam usaha menarik masyarakat, seorang da’I harus bersikap lemah lembut terhadap mereka. Karena masyarakat membenci kekerasan dan menjauhi pelakunya.
Seorang da’I harus menganggap dirinya murabbi bagi setiap manusia. Karena itu, agar pendidikannya berhasil, ia tidak boleh memperlakukan masyarakat seperti musuh.
“Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan dalam segala hal” (HR. Bukhari-Muslim)
5. Memudahkan, tidak mempersulit.
Salah satu sikap yang membantu para da’I agar dakwahnya diterima adalah memudahkan, dan tidak mempersulit dalam menelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi dalam masyarakat.
“Mudahkanlah dan jangan mempersulit, senangkanlah mereka dan jangan membuat mereka lari” (HR. Bukhari-Muslim)
6. Tawadhu’ dan Merendahkan Sayap
Salah satu sikap paling menonjol, yang membuat para da’I disukai oleh keluarga dan masyarakatnya, juga menjadikan ia memiliki pengaruh yang sangat kuat, adalah sikap tawadhu’ dan merendahkan sayap.
“tidak akan masuk syurga seseorang yang dalam hatinya terdapat sedikit kesombongan.” (HR. Muslim)
7. Muka Berseri-seri dan Perkataan yang Baik
Muka berserk- seri dalah lambing bagi seorang da’I dan cermin bagi jiwa. Seorang da’I hendaklah melatih diri agar wajahnya senatiasa tampak berseri-seri dan murah senyum dalam kondisi apapun. Sedangkan perkataan yang baik adalah sarana untuk berhubungan dengan orang lain, dan sarana untuk mengungkapkan berbagai nilai dan pemikiran.
“…. Serta ucapakanlah kata-kata yang baik kepada maunusia.” (Al-Baqarah (2) : 83)
8. Dermawan dan Berinfak kepada Orang Lain
Dalam jalan dakwah ini segala sesuatu harus dimurahkan. Hal demikian karena nilai utama adalahbagi manusia yang untuknya Allah menundukkan segala apa yang ada di langit dan di bumi. Salah satunya adalah harta yang diberikan Allah kepada kita.
· Islam mewajibkan memuliakan tamu. Bisakah kita memuliakan tamu tanpa mengeluarkan dana dan jiwa yang dermawan?
· Member hadiah kepada orang lain termasuk akhlaq Islam dan dianjurkan oleh Nabi SAW
· Semua keutamaan yang diperintahkan Islam, menuntut kedermawanan. Berbagai perbuatan mulia yang diperintahkan Allah, seperti berinfaq kepada fakir miskin, bertentangan dengan kebakhilan.
9. Melayani Orang Lain dan Membantu Keperluan Mereka
Seorang da’I wajib menerjemahkan pemikiran dan konsepnya dalam bentuk tindakan konkret. Salah satunya adalah dengan turut merasakan problemaika umat, dan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikannya.

· Isti’ab Internal
Adalah kemampuan untuk menampung objek dakwah yang telah berada di tengah-tengah shaff dakwah baik oleh para pemimpin maupun anggotanya.
Isti’ab internal berusaha untuk mendayagunakan potensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah dan pergerakan.isti’ab internal dilakukan melalui dua tahap, yaitu:
I. Isti’ab ‘aqidi dan tarbawi
Dalam tahap ini dilakukan ormulasi terhadap kader dengan membersihkan mereka dari polutan masa lalu, dan mencuci otak mereka dari karat-karat yang menempel padanya berupa berbagai hal yang tidak Islami.
Selain itu, dilakukan pelurusan aqidah, perilaku dan akhlaq, serta keinginan dan kecenderungan mereka. Dtitentukan pula arah sasaran dan tujuan mereka.
Sedangkan isti’ab tarbawi, harus bisa memenuhi semua bidang tarbiyah. Tidak boleh hanya pemikiran semata, atau spiritual semata. Tetapi harus bisa memenuhi semua fitrah kebutuhan manusia.
Isti’ab tarbawi harus meperhatikan berbagai perkembangan kehidupan dan tahapan-tahapan alami dan khusus yang dilalui oleh para individu.
Isti’ab tarbawi harus bisa memenuhi seluruh bidang tarbiyah. Tidak boleh hanya pemikiran semaa,. Tapi harus bisa memenuhi semua kebutuhan fitrah manusia.
1) Sunnah Rasul dalam Pembentukkan Pribadi Muslim
Rasulullah menggunakan metode yang unik sesuai dengan kesempurnaan manhaj Islam dan fitrah yang ditetapkan oleh Allah. Rasulullah memandang manusia apa adanya, dan menghadapi manusia layaknya manusia, dan memperhatikan segala kecenderungan dan kebutuhan manusia. Rasulullah tidak menghadapai manusia seperti menghadapai malaikat, juga tidak menghadapi manusia seperti binatang.
2) Beberapa Kaidah Asasi dalam Sunnah
§ Memenangkan sisi positif atas sisi negativ
“Orang yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar terhadap gangguannya lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar terhadap gangguannya” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
§ Memennangkan sikap proporsional atas sikap berlebih-lebihan
“Ingatlah, akan hancur orang-orang yang berlebih-lebihan, akan hancur orang-orang yang berlebih-lebihan” (HR.Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad)
§ Sedikit tapi kontinyu lebih baik daripada banyak tapi terputus
Kontinuitas akan membua seseorang dapat melaksanakan tanpa merasa keberatan.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan oleh pelakunya secara kontinyu.” (HR. Bukhari dan Malik)
§ Sunnah Rasul dan Mendahulukan Prioritas dalam Pembentukkan
Salah satu sunnah Rasul dalam pembentukkan adalah melakukan sesuatu sesuai prioritasnya, serta mendahulukan yang lebih penting daripada yang penting. Proses pembentukkan yang tidak melalui tangga prioritas, hanya akan menghasilkan produk yang rapuh karena tidak memiliki dasar yang kokoh. Inilah titik perbedaan mendasar antara akhlaq Islam yang dilandasi oleh aqidah tauhid, dan akhlaq menurut persepsi filsafat materialis yang hanya dilandasi oleh kepentingan sesaat.
Dalam melakukan pembentukkan, Rasulullah terlebih dahulu memfokuskan pembangunan aqidah.
§ Pembentukkan Melalui Keteladanan
Rasulullah adalah teladan utama bagi umat Islam, di setiap zaman, dan tempat. Hal ini karena Rasulullah adalah refleksi utuh dari Al-Quran.
“Keimanan bukanlah dengan angan-angan dan harapan, akan tetapi keimanan adalah sesuatu yang yang tertanam dalam hati dan dibuktikan dalam bentuk amalan.” (HR. Dailami)
§ Pembentukkan yang Menyeluruh dan Tidak Parsial
Rasulullah melalui hadits-haditsnya tidak hanya memfokuskan satu sisi dalam diri seseorang. Akan tetapi memperhatikan semua sisi.
§ Keshalihan Lingkungan dan Pengaruhnya dalam Pembentukkan
i. Rasulullah memandang bahwa lingkungan keluarga merupakan titik tolak pertama yang menentukan proses pembentukkan.
ii. Pemilihan teman juga dianggap faktor yang berpengaruh dalam pembentukkan.
iii. Rasulullah juga sering menganjurkan untuk membersihkan masyarakat dari berbagai unsure yang tidak baik, demi untuk menutup pintu-pintu kerusakkan dan membantu individu dalam mewujudkan istiqomah dan menempuh jalan orang-orang yang shalih.
§ Dampak Pahala dan Hukuman dalam Pembentukkan
Penetapan prinsip pahala dan hukuman diterapkan oleh Rasulullah sebagai realisasi konkret dari prinsip pahala yang banyak disebutkan dalam Al-Quran.
· Isti’ab Haraki
Adalah kemampuan sebuah pergerakkan dalam menampung para anggotanya, para pendukungnya, dan para simpatisannya. Sebagaimana yang dimaksudkannya adalah juga kemampuan gerakkan dan para anggotanya dalam menampung berbagai persoalan, prinsip, dan kaidah-kaidah pergerakkan.
Untuk dapat menampung para anggotanya, gerakkan harus memenuhi beberapa syarat berikut:
1. Proses tarbiyah yang matang. Karena keikutsertaan seseorang dalam sebuah pergerakkan harus diawali dengan tarbiyah. Jika tidak, maka kegagalan yang akan didapat.
2. tersedianya berbagai potensi dan kapabilitas serta faktor pendukung lainnya dalam sebuah pergerakkan untuk bisa menampung anggotanya. Antara lain; manajerial yang handal, perencanaan yang matang, konsep yang jelas dalam pendidikan, pemikiran, politik, dan lain sebagainya.
c. mengetahui semua anggotanya dengan benar, mengetahui potensi yang dimiliki, kecenderungan mereka, sisi positif dan negatifnya, dan hal-hal lainnya.
d. mengerahkan seluruh anggota dan bukan sebagian saja, atau orang-orang berprestasi saja.
e. penugasan anggota jama’ah secara bersama-sama, bukan secara individu saja.

Ada beberapa masalah penting yang harus dikuasai oleh para da’I terkait dengan pergerakkan, yaitu:
1. pemahaman yang benar dan sempurna tentang sasaran dan sarana yang digunakan
2. memahami tanzhim dan tabiatnya dengan benar.
3. pemahaman yang benar dan menyeluruh terhadap tabiat teman dan lawan berikut konsekuensinya.
4. pemahaman yang baik tentang berbagai aspek, tabi’at, dan kebutuhan amal.
5. menjauhi fenomena istiknaf.

(Yakan, Fathi.2005. Isti’ab. Jakarta : Robbani Press)

Kesahihan Hadis “Sombong terhadap Orang Sombong adalah Sedekah”

Pertanyaan:

Sahihkah hadis dengan matan terjemahan, “Sombong terhadap orang sombong adalah sedekah.” Bila sahih, bagaimana syarahnya menurut ulama? Maaf, saya cuma mendengar pas khotbah Jumat, dan merasa aneh.

Ing Ratri (aku**@***.com)

Jawaban:

Bismillah.

Teks kalimatnya adalah,

التكبر على المتكبر صدقة

Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah.”

Dalam keterangan yang lain,

التكبر على المتكبر حسنة

Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah perbuatan baik.”

Penyataan di atas bukanlah hadis, melainkan hanya perkataan manusia yang banyak tersebar di masyarakat, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ajluni dalam kitabnya, Kasyful Khafa, dengan menukil keterangan dari Al-Qari. Kemudian, Al-Qari mengatakan, “Hanya saja, maknanya sesuai dengan keterangan beberapa ulama.”

Penulis kitab Bariqah Mahmudiyah mengatakan, “Bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah, karena jika kita bersikap tawadhu di hadapan orang sombong maka itu akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap sombong maka dia akan sadar. Ini sesuai dengan nasihat Imam Syafi’i, ‘Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.’ Imam Az-Zuhri mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada pecinta dunia merupakan bagian ikatan Islam yang kokoh.’ Imam Yahya bin Mu’adz mengatakan, ‘Bersikap sombong kepada orang yang bersikap sombong kepadamu, dengan hartanya, adalah termasuk bentuk ketawadhuan.’”

Sementara, ulama yang lain mengatakan, “Terkadang bersikap sombong kepada orang yang sombong, bukan untuk membanggakan diri, termasuk perbuatan terpuji. Seperti, bersikap sombong kepada orang yang kaya atau orang bodoh (yang sombong).”

Allahu a’lam.

 

Diambil dari: http://www.konsultasisyariah.com/kesahihan-hadis-sombong-terhadap-orang-sombong-adalah-sedekah/

GENTA : SEPERTINYA KAMI SUDAH BERSEDEKAH HAMPIR 20RIBU PAK!

GENTA : SEPERTINYA KAMI SUDAH BERSEDEKAH HAMPIR 20RIBU PAK!
6 hari seminggu, rerata 22 jam aktif per hari, berbagai macam hal terjadi. 30 September 2015, saya diumumkan masuk PK-45 (Persiapan Keberangkatan Beasiswa LPDP angkatan 45), saya sedikit mengeluh. Kok masuk kuliah masih lama tapi sudah disuruh PK saja, kan bisa nanti-nanti kan? Ternyata, setelah selesai saya malah terus bersyukur bisa masuk ke dalam lingkaran orang-orang hebat ini.
Terlalu banyak yang dapat diceritakan selama kegiatan Pra-PK, mau disuruh berapa kata pun saya pasti capek untuk menjelaskan secara detail. Yang jelas, semua tugasnya memiliki makna yang sama, “I must push my limit.”

Semua tugas yang diberikan saat sebelum Persiapan Keberangkatan benar-benar terasa hampir tidak mungkin ketika dihantam dengan deadline. Namun perlahan tapi pasti saya merasa kalau memang otak saja lah yang memanjakan raga untuk tidak berbuat lebih.

Sampai pada akhirnya PK pun tiba, berbekal tas besar yang buat pegal tangan kanan dan ransel saya dan beberapa anggota PK-45 lain pergi dengan kereta eksekutif (which is my first experience naik kereta mahal yang cuma beda di sudut dan busa kursi dengan kereta ekonomi) kami menuju Yogyakarta.

Singkat cerita briefing sana kenalan sini, tidur sana terlambat sini. Saya memulai hari pertama PK dengan tidak baik karena hanya saya dengan Willy, awardee lain yang berbaik hati menampung saya, yang datang sangat mepet dengan jadwal pembukaan PK. Kenapa sih harus seketat ini. Gerutu dalam hati.

Akan tetapi, setelah semua dimulai saya baru menemukan esensi subjektif saya mengenai persiapan keberangkatan ini. It really brings you for bigger purposes. Mungkin banyak yang melihat sebagai keanehan ketika persiapan beasiswa malah menugaskan beberapa awardee untuk stand up comedy, atau mencari teman sebanyak-banyak di linkedin.

“Hei Lam, para tim sudah berpengalaman menangani 44 PK sebelumnya, dan mereka orang-orang yang sangat terdidik. Tak mungkin ini dibuat tanpa maksud.” Benar saja, semua tugas ini mempunyai manfaat implisit yang mungkin beberapa orang “hebat” malah tidak dapat melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih baik.

For the first time, saya tampil sebagai comic di stand up comedy. Selanjutnya pertama kali setelah sekian lama sebagai MC. Lalu pertama kalinya lagi yang terparah sebagai dirijen dan penari yang disorientasi arah tubuh dan gerakannya sudah masuk level kronis. Benar-benar pengalaman yang hebat menurut saya, para akademisi ini disuruh menyentuh dunia lain yang mungkin mereka tak akan lakukan lagi setelah PK. Saya gagal atau berhasil semuanya diselesaikan dengan menertawakan dan menghargai diri sendiri.

Saya merasa ikatan saya dengan banyak calon pemimpin bangsa ini menguat, dan memang itu tujuan PK. Saya merasa harus menjadi role model untuk orang lain khususnya sebagai duta LPDP, dan memang itu tujuan PK. Lalu saya mendapatkan banyak sekali inspirasi, mulai dari narasumber sampai awardee lain (jujur, saya merasa banyak awardee yang tak kalah inspiratif dengan narasumber), dan itu memang tujuan PK. Jadi terasa lucu saja kalau saya waktu itu masih sempat berpikir Persiapan Keberangkatan hanyalah sesuatu yang harus segera saya lewati sebagai proses formalitas. PK jauh lebih dari itu.

Pak Kamil, sebagai person in charge program ini, dengan baik merangkum hal ini di suatu sesi. Saya tak ingat speech secara lengkapnya, namun kurang lebih ia berkata bahwa PK ini dibuat seperti membujuk orang untuk sedekah secara maksimal.

“Kalau kamu punya uang 20ribu, terus kamu tidak sedekah, salah tidak?” Pak Kamil bertanya. Dan kami secara kompak berkata tidak.

“Kalau cuma sedekah 3 ribu, salah tidak?” “Tidaaaak”

Seperti itu, Pak Kamil terus menaikkan angka uang sedekahnya sampai pada akhirnya ia berkata kurang lebih seperti ini. Bahwa sebenarnya beliau ingin kami menyedekahkan semua uang 20 ribu itu, mengeluarkan semua potensi kami, menghilangkan mindset kami tentang limit dalam diri, semuanya demi kami juga toh saat studi kami kelak.

Disaat itu saya melihat kegiatan PK ini dari perspektif yang berbeda, dan mungkin itu terjadi kepada awardee yang lain juga. Bila melihat kegigihan mas Irsan,teman awardee saya yang dalam hampir tiap penyambutan narasumber ia harus berpanas-panasan dalam kostum maskot kami, Genta, saya rasa ia pantas berkata bahwa.

“Sepertinya kami sudah bersedekah hampir 20 ribu Pak”

P.S : Tentu saja, dalam kegiatan selama Pra-PK dan PK, PK-45 banyak sekali kekurangan. Namun, terlepas dari itu semua, saya benar-benar bersyukur bisa mengenal tim PK dan tentunya kalian hey teman Gelora Nusantara.

Sumber dr awardee PK-45: https://huudalam.wordpress.com/2015/11/07/genta-sepertinya-kami-sudah-bersedekah-hampir-20ribu-pak/

Terbuka untuk umum

Terbuka untuk umum
Join us!!

Stadium General
”Creating Indonesia Future Leaders With Quranic Characters”

Presented by HIMMPAS Universitas Gadjah Mada

Bersama :
Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, Ph.D (Wamenkes Kabinet Indonesia Bersatu II)

Solikhin Abu Izzuddin (Penulis best seller “Zero to Hero”)

Waktu : Sabtu, 05 Dec’ 15 (07.30-10.30 WIB) @Auditorium FMIPA UGM

Registrasi: Ketik SG_Nama Lengkap_Fakultas_CP

Kirim SMS/WA/Line
Putra: 0896 9132 6158
Putri: 0856 3692 780

HTM 10K (Ilmu, Sertifikat, Snack)

Fenomena Mother distrust

Silahkan browsing “mama bangs*t”, maka akan muncul ribuan tweet anak-anak remaja mengtweet “mama bangs*t” atau memaki ibu mereka pada akun sosialnya. Menyedihkan. Apa pasal?
Rupanya, banyak ibu sekarang, yang melupakan arti bonding, atau kelekatan kasih sayang untuk anak anaknya.
Ada seorang anak Pejabat, yang memiliki kelimpahan materi. Membuang Iphone seharga 3juta rupiah, melempar laptop mac seharga 35juta rupiah ke kolam renang rumahnya. Hanya karena dilarang keluar malam oleh Ayahnya. Ketika si ibu datang, melarang anaknya, keluar lah kalimat kebun binatang pada si ibu.. *Astaghfirullah..

Setelah diselidiki. Si anak curhat. Bahwa sejak bayi, ia tidak punya bonding terhadap ibu nya. Ibu nya terlalu sibuk bekerja meraih karir, ia jarang merasakan belai kasih ibu nya.

Para Bunda, ternyata hak anak untuk bisa menyusui adalah mutlak, dia menemukan kasih sayang, kenyamanan, cinta kasih lewat emotional bonding dgn ibu nya ketika menyusu. Jangan pernah cepat-cepat disapih.
Maka nya, ketika anak masih bayi, tidak ada istilah bau tangan, anak butuh segera gendong. Karena dia butuh mendapatkan rasa aman dan cinta. Kalau dibiarkan lama-lama, dia akan menjadi anak yg memikirkan diri sendiri tidak memahami perasaan orang lain.

Fungsi ibu memberi rasa aman. Sedang Ayah, menegakkan aturan. Ketika ibu sebagai ratu di rumah tidak lagi dirindukan, anak akan betah lama lama di luar.

Harus menularkan energi positif kepada anak.
Ketika melihat anak bandel, nakal, harusnya anak tersebut lebih butuh kasih sayang dan perhatian kita.

Kebutuhan seorang ibu :
1. Ibu harus punya ‘me time’
2. Couple (ibu harus punya waktu berdua bersama pasangan. Wanita yang sehat jiwa nya, harus mengeluarkan 20.000 kata per hari. Jalan bersama, membahas tentang anak)
3. Family time (waktu bersama keluarga inti)
4. Social Time

Aspek diatas harus seimbang. Skill dasar seorang wanita, menulis. Karena emosi yang tidak keluar atau disalurkan, akan rentan membuat ibu menjadi kasar dan emosional. Curahkan isi kepala dan hati lewat tulisan.

Rumus mendidik anak di era sekarang, adalah menjebol privasi si anak. Jangan GR ketika anak memprotect hp, jangan menganggap dia mandiri. Hati hati.

Kejadian nyata, anak 2 smp, punya akun fb, berteman dengan pemuda yang status FB nya penuh motivasi. Si gadis kagum. Kopi darat, si ibu tidak tahu.

Ternyata si cowok punya niat tidak baik. Awal ketemuan pegangan tangan, lalu mulai berani yang lebih. Tapi si anak perempuan selalu menolak. Sampai suatu waktu, anak gadis di telepon pacarnya tengah malam, ia berbohong bilang menjadi korban begal. Si gadis karena kadung cinta, keluar malam itu hendak menolong pacarnya. Di tempat sepi, ia nyaris mau dinodai. Bersyukur ada bapak bapak melihat dan segera menolong anak gadis tersebut. Si ibu nyaris pingsan. Anak yang dikira baik, dikira tidur di kamarnya, ternyata sudah pacaran 2 tahun dengan pemuda tersebut. Si anak tidak mau cerita dan terbuka dengan bunda nya. Kenapa? Karena bunda nya bukan menjadi tempat yang asik untuk diajak curhat.

Ibu hrs punya skill dasar agar dirindukan anak.
*bisa memasak
(audience heboh byk yg protes), Ustad mengatakan memang tugas seorang ibu bukan memasak, di kitab fiqih mana pun tdk dijelaskan tugas utama ibu memasak, krn kita membangun rumah tangga, bukan rumah makan. Harus bisa masak, agar anak kangen dgn masakan ibu.

*memijit
Anak sampai usia berapa pun butuh dipeluk dan disentuh. Ketika anak yg biasa dipijat di punggung, perut, dan tangan, maka ia akan terbiasa lancar bercerita. Maka nya profesi tukang pijit sekalian tukang pijit jadi konselor juga. Pelajari ilmu akupresure, akupuntur.

*mendengarkan
Kalau wanita ditanya banyak jawab singkat. Berarti dia lagi sedih. Kalau ditanya sedikit jawabannya banyak, tanda si ibu lagi happy.

Penutup :

Ketika ibu sudah
dirindukan, maka anak akan punya definisi indah tentang rumah.. Rumah dimana disana ibu berada. Ibu yang selalu punya cinta yg membuat anak ingin pulang.
—-
By : Nailah Assagaf
ikatlah ilmu dengan menulis

Gempa lagi…..

Gempa lagi…..

Pada suatu hari di Madinah terjadi gempa bumi..
Rasulullah Saw lalu meletakkan kedua tangannya diatas tanah dan berkata, “Tenanglah, belum datang saatnya bagimu.” Lalu, Nabi menoleh ke arah para sahabat dan berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian menegur kalian.. Maka buatlah Allah ridha kepada kalian!”

Sepertinya, Umar bin Khattab mengingat kejadian itu. Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifannya, ia berkata kepada penduduk Madinah: “Wahai manusia, apa ini ? Alangkah cepatnya apa yg kalian kerjakan (maksiat kepada Allah)! Andaikata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”

Seorang dengan ketajaman mata bashirah, seperti Umar bin Khattab bisa merasakan bahwa kemaksiatan yg dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah Saw dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana. Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Umar bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali.

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan : “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dgn guncangan yg dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia.”

Di kalangan Ulama Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata : “Sesungguhnya Allah sdg menegur kalian.”
Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri :
“Amma ba’du. Sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba2-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri agar keluar pada hari2 tertentu, maka barangsiapa yg memiliki harta, hendaklah bersedekah. Sesungguhnya sedekah itu akan menjadi perisai dari musibah.”

Copas dari grup sebelah.

Kunci – kunci Kesuksesan dari Allah Ta’ala

Kunci – kunci Kesuksesan dari Allah Ta’ala

Ust DR. Muslih Abdul Kariim
Bismillahirrahmanirrahim

Sy mengutip firman Allh swt…
QS. Al-Anfaal; 45-47

Ayat ini mengingatkan kpd kita ttg siapa yg ingin sukses ini kiatnya..

Allah memulai dgn panggilan Kehormatan.. panggilan Kesayangan ..
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“Yaaa Ayyuhalladzina aamanu… “

Ini kiat nya..

1. فَاثْبُتُوا
Fasbutu.. stabat…
Begitu banyak ujian yg kita hadapi..dan diantara ujiaan2 yg ujian terberat yg ini lah yg dihadapi Rosulullah dan ini akan ada terus .. yaitu.. Harta, Tahta & Wanita.. Rosulullah saw ketika ditawari utk berhenti dakwahnya ini ujian yg dihadapkan kepada beliau.. dan beliau lulus.. mudah2an kita jg lulus dlm menghadapi setiap ujian2 yg ada..

2. وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا
Wadzkurullaha katsiraan…
Kalau istilah sy sederhananya banyaak2 ma’tsurat nya..
Apalagi kalo ditambah tilawahnya juga di tingkatkan..

3. وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَه
Athiiullah warrasuul..
Ta’tati lah Allah dan RasulNya..

4. ُ وَلَا تَنَازَعُوا
Walaaa tana za ‘uuu.. jangan sampai kita tidak “satu kata”… persatuan kita harus kuat.. jangan sampai kita bersilih.. klo ada satu saja kita berselisiih.. jangan harapkan pertolongan Allah akan datang..

5. وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Washbiruuu..
Bersabarlah… sabar dlm thoaat.. sabar dlm ketaatan.. dan shabar dlm musibah..

6. Ikhlas..
Ikhlaslah dlm sehala hal.. haraplah hanya Ridho Allah swt.

InsyAllah…

APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN?

APA YANG SUDAH KITA SIAPKAN?

Pada suatu hari seorang tabi’in Abu Hazim Salamah bin Dinar ditanya oleh Khalifah pada masa itu: Sulaiman bin Abdil Malik.

يا أبا حازم ما لنا نكره الموت؟

قال: لأنكم عمرتم دنياكم وخربتم آخرتكم فأنتم تكرهون أن تنتقلوا من العمران إلى الخراب؟

“Wahai Aba Hazim, kenapa kita membenci kematian?”

Maka beliau berkata, “Karena kalian memakmurkan dunia kalian dan merusak akhirat kalian, sehingga kalian benci untuk berpindah dari tempat yang makmur ke tempat yang rusak dan terbengkalai.”

SubhanAllah!

Itulah realitanya….
Kita sibuk-sibuk untuk membangun dunia kita.
Dari pagi sampai sore, sampai malam untuk dunia.
Mau tidurpun masih dunia
Bangun tidur tetap dunia…

Sehingga kita memiliki rumah, mobil, keluarga dan tabungan yang banyak.

Sedangkan untuk yang setelah kematian…
Hanya sedikit dari harta kita…sedikit sekali dibanding dengan yang kita simpan.
Dilihat dari waktu yang kita gunakan untuk membangun akhirat kita.
Sangat sedikit sekali, dibanding dengan waktu kita untuk dunia kita…

Kalau seperti itu…

Pastilah kita takut, untuk berpindah ke rumah yang belum jadi
Tiada taman
Tiada kawan
Tiada makanan
Bahkan yang ada adalah azab dan siksa

Karena kita mencuekinnya…
Tidak merawatnya
Tidak membangunnya

Sepertinya, kita sudah harus mulai merenungi kembali kehidupan kita.
Ust. Syafiq Riza Basalamah MA حفظه الله تعالى
___________________

Terima Kasih Guru

Kisah inspiraatif yang saya peroleh dari berbagi group dan tidak ada sumbernya.
(dari grup sebelah) tentang rasa syukur dan ucapan terima kasih seorang murid kepada gurunya.
Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul.
Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan. Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap.
Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.

Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu?
Berbagai plakat penghar gaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil.
Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.
Namun Pak Hamid ikhlas menjalaninya, walau dengan gaji yang tersendat dan minimnya fasilitas sekolah.
Cinta Pak Hamid pada anak-anak kecil yang bertelanjang kaki dan rela berjalan jauh untuk mencari ilmu, mampu menutup keinginannya untuk pindah ke daerah lain yang lebih nyaman.

Kini masa itu sudah lewat.
Masa pengabdiannya usai sudah pada usianya yang keenam puluh.
Meskipun berat hati, Pak Hamid harus meninggalkan desa itu beserta keluarganya. Mereka tinggal di rumah peninggalan mertuanya di pinggir kota.
Jauh dari anak didik yang dicintainya, jauh dari jalan tanah, sejuknya udara dan beningnya air yang selama ini menjadi nafas hidupnya.

“Hei, jualan jangan sambil melamun!” teriak pedagang kaos kaki di sebelahnya. Pak Hamid tergagap.
“Tawarkan jualanmu itu pada orang yang lewat.
Kalau kamu diam saja, sampek elek ra bakalan payu!” (sampai butut gak akan laku) kata pedagang akik di sebelahnya.

“Jualanmu itu menurutku agak aneh,” ujar pedagang kaos kaki lagi. “Apa ada yang mau beli barang-barang seperti itu ?
Mungkin kamu mesti berjualan di tempat barang antik.
Bukan di kaki lima seperti ini”.

Pak Hamid tak menjawab. Itu pula yang sedang dipikirkannya.
Siapa yang tertarik untuk membeli plakat-plakat itu?
Bukanlah benda-benda itu tidak ada gunanya bagi orang lain, sekalipun sangat berarti baginya ?

“Sebenarnya kenapa sampai kau jual tanda penghargaan itu ?” tanya pedagang akik.“Saya butuh uang.”
“Apa isteri atau anakmu sedang sakit ?”

“Tidak. Anak bungsuku hendak masuk SMU. Saya butuh uang untuk membayar uang pangkalnya.”
“Kenapa tidak ngutang dulu. Siapa tahu ada yang bisa membantumu.”“Sudah. Sudah kucoba kesana-kemari, namun tak kuperoleh juga.”
“Hei, bukankah kau punya gaji…eh… pensiun maksudku.”

“Habis buat nyicil motor untuk ngojek si sulung dan buat makan sehari-hari.”

Penjual akik terdiam. Mungkin merasa maklum, sesama orang kecil yang mencoba bertahan hidup di kota dengan berjualan di kaki lima .

“Kau yakin jualanmu itu akan laku?”penjual kaos kaki bertanya lagi setelah beberapa saat. Matanya menyiratkan iba.

“Insya Allah. Jika Allah menghendaki aku memperoleh rejeki, maka tak ada yang dapat menghalanginya.”

Siang yang panas. Terik matahari tidak mengurangi hilir mudik orang-orang yang berjalan di kaki lima itu. Beberapa orang berhenti, melihat-lihat akik dan satu dua orang membelinya. Penjual akik begitu bersemangat merayu pembeli. Rejeki tampaknya lebih berpihak pada penjual kaos kaki. Lebih dari dua puluh pasang kaos kaki terjual. Sedangkan jualan Pak Hamid, tak satupun yang meliriknya.

Keringat membasahi tubuh Pak Hamid yang mulai renta dimakan usia. Sekali lagi dipandanginya plakat-plakat itu. Kegetiran membuncah dalam dadanya. Berbagai penghargaan itu ternyata tak menghidupinya. Penghargaan itu hanya sebatas penghargaan sesaat yang kini hanya tinggal sebuah benda tak berharga.

Sebuah ironi yang sangat pedih. Tak terbayangkan sebelumnya. Predikatnya sebagai guru teladan bertahun yang lalu, tak sanggup menghantarkan anaknya memasuki sekolah SMU. Sekolah untuk menghantarkan anaknya menggapai cita-cita, yang dulu selalu dipompakan ke anak-anak didiknya.

Saat kegetiran dan keputusasaan masih meliputinya, Pak Hamid dikejutkan oleh sebuah suara.
“Bapak hendak menjual plakat-plakat ini?” seorang lelaki muda perlente berjongkok sambil mengamati jualan Pak Hamid. Melihat baju yang dikenakannnya dan mobil mewah yang ditumpanginya dengan supirnya, ia sepertinya lelaki berduit yang kaya raya.

Pak Hamid tiba-tiba berharap.
“Ya…ya..saya memang menjual plakat-plakat ini,” jawab Pak Hamid gugup.

“Berapa bapak jual setiap satuannya?”
Pak Hamid berfikir,”Berapa ya? Bodoh benar aku ini. Dari tadi belum terpikirkan olehku harganya.”
“Berapa, Pak?”

“Eee…tiga ratus ribu.”

“Jadi semuanya satu juta lima ratus. Boleh saya beli semuanya ?”

Hah?? Dibeli semua, tanpa ditawar lagi! Kenapa tidak kutawarkan dengan harga yang lebih tinggi? Pikir Pak Hamid sedikit menyesal. Tapi ia segera menepis sesalnya. Sudahlah, sudah untung bisa laku.

“Apa bapak punya yang lain. Tanda penghargaan yang lain misalnya …”

Tanda penghargaan yang lain? Pak Hamid buru-buru mengeluarkan beberapa piagam dari tasnya yang lusuh. Piagam sebagai peserta penataran P4 terbaik, piagam guru matematika terbaik se kabupaten, bahkan piagam sebagai peserta Jambore dan lain-lain piagam yang sebenarnya tidak begitu berarti. Semuanya ada sepuluh buah.

“Bapak kasih harga berapa satu buahnya ?”

“Dua ratus ribu.” Hanya itu yang terlintas di kepalanya.

“Baik. Jadi semuanya seharga tiga juta lima ratus ribu. Bapak tunggu sebentar, saya akan ambil uang di bank sana itu.” kata lelaki perlente itu sambil menunjuk sebuah bank yang berdiri megah tak jauh dari situ.

“Ya…ya..saya tunggu.” kata Pak Hamid masih tak percaya.

Menit-menit yang berlalu sungguh menggelisahkan. Benarkah lelaki muda itu hendak membeli plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaannya? Atau dia hanya penipu yang menggoda saja? Pak Hamid pasrah.

Tapi nyatanya, lelaki itu kembali juga akhirnya dengan sebuah amplop coklat di tangannya. Pak Hamid menghitung uang dalam amplop, lalu buru-buru membungkus plakat-plakat dan berbagai tanda penghargaan miliknya dengan kantong plastik, seakan-akan takut lelaki muda itu berubah pikiran.

Dipandangnya lelaki muda itu pergi dengan gembira bercampur sedih. Ada yang hilang dari dirinya. Kebanggaan atau mungkin juga harga dirinya. Pak Hamid kini melipat alas dagangannya dan segera beranjak meninggalkan tempat itu, meninggalkan pedagang akik dan kaos kaki yang terbengong-bengong. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun, ia tak sempat berfikir soal mereka, pikirannya sendiri pun masih kurang dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi.

“Lebih baik pulang jalan kaki saja. Mungkin sepanjang jalan aku bisa menata perasaanku. Sebaik mungkin. Aku tidak ingin istriku melihatku merasa kehilangan plakat-plakat itu. Aku tidak ingin ia melihatku menyesal telah menjualnya. Karena aku ingin anakku sekolah, aku ingin dia sekolah!” Pak Hamid bertutur panjang dalam hati.

Ia melangkah gontai menuju rumah. Separuh hatinya begitu gembira, akhirnya si bungsu dapat sekolah. Tiga setengah juta cukup untuk membiayai uang pangkal dan beberapa bulan SPP. Namun, separuh bagian hatinya yang lain menangis, kehilangan plakat-plakat itu, yang sekian tahun lamanya selalu menjadi kebanggaannya.
Jarak tiga kilometer dan waktu yang terbuang tak dipedulikannya. Sesampainya di rumah, istrinya menyambutnya dengan wajah khawatir.

“Ada apa, Pak? Apa yang terjadi denganmu? Tadi ada lelaki muda yang mencarimu. Dia memberikan bungkusan ini dan sebuah surat. Aku khawatir sampeyan ada masalah.”

Pak Hamid tertegun. Dilihatnya kantong plastik hitam di tangan istrinya. Sepertinya ia mengenali kantong itu. Dibukanya kantong itu dengan terburu-buru. Dan…plakat- plakat itu, tanda penghargaan itu ada di dalamnya! Semuanya! Tak ada yang berkurang satu bijipun! Apa artinya ini? Apakah lelaki itu berubah pikiran? Mungkin ia bermaksud mengembalikan semuanya. Atau mungkin harga yang diberikannya terlalu mahal.
Batin Pak Hamid bergejolak riuh. Segera dibukanya surat yang diangsurkan istrinya ke tangannya. Sehelai kartu nama terselip di dalam surat pendek itu.

“Pak Hamid yang saya cintai,Saya kembalikan plakat-plakat ini. Plakat-plakat ini bukan hanya berarti untuk Bapak, tapi juga buat kami semua, murid-murid Bapak. Kami bangga menjadi murid Bapak. Terima kasih atas semua jasa Bapak.”
Suryo, lulusan tahun 76.

Tak ada kata-kata. Hanya derasnya air mata yang membasahi pipi Pak Hamid.

*******
Terima kasih tak terhingga untukmu guru-guruku ust2 ku (dosen-dosenku) tercinta…, jasamu sungguh tak ternilai bagi kami….. Semoga pahala terus mengalir kpdamu para guruku, ustadku (baik yg msh hidup maupun yg sdh tiada) sampai hari persidangan nanti di padang mahsyar krna engkau telah mengajarkan ilmu yang bermanfaat kpda kami.

Semoga bermanfaat..